Oleh Reza A.A Wattimena
Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala, Surabaya
Setiap orang pasti pernah pacaran, setidaknya sekali dalam hidupnya.
Setiap suami pasti pacaran dulu dengan calon istrinya. Setelah mantap,
baru mereka menikah. Kalo tidak mantap, yah putus, dan cari pacar lagi.
Saya juga yakin, anda pasti pernah pacaran sebelumnya. Ya kan?
etiap orang juga tahu, bahwa komponen terpenting dari pacaran adalah
cinta. Ya, cinta! Namun, banyak orang kesulitan, ketika diminta
menjelaskan, apa itu cinta? Ratusan pemikir dan ilmuwan mencoba
mendefinisikan arti kata itu. Namun, tak ada yang sungguh bisa
menjelaskannya. Atau, jangan-jangan cinta itu hanya bisa dirasa, tapi
tak bisa dijelaskan dengan kata-kata? Bagaimana menurut anda?
Yang saya tahu, cinta itu punya enam komponen. Anggaplah saya punya
teori sendiri tentang cinta, semacam filsafat cinta. Enam komponen itu
adalah hasrat, kehadiran, komitmen, akal budi, berkembang, dan paradoks.
Bingung? Tenang.. saya akan jelaskan satu per satu.
Hasrat
Komponen pertama dari cinta, menurut saya, adalah hasrat. Hasrat
adalah keinginan yang membakar hati, dan mendorong kita untuk bertindak.
Hasrat adalah sumber dari dorongan hidup manusia, yang membuat kita
bangun di pagi hari, dan mulai melakukan aktivitas. Pada saat ini, saya
yakin, anda sedang berhasrat untuk membaca tulisan saya. Iya kan? Hayoo
ngaku…
Sekitar 50 tahun yang lalu, Jacques Lacan, seorang pemikir asal
Prancis, pernah menulis, bahwa manusia adalah mahluk yang berlubang.
Hah, berlubang? Bukan berlubang secara fisik, tetapi ia memiliki lubang
dalam jiwanya yang terus menuntut untuk diisi. Isinya bisa macam-macam,
mulai diisi dengan barang-barang
mewah, teman, keluarga, cinta, dan
sebagainya. Apakah anda punya lubang semacam itu di hati anda?
Pada hemat saya, Lacan betul. Saya sendiri merasakannya. Bagi saya,
lubang dalam jiwa itu adalah sumber dari segala hasrat manusia. Artinya,
keinginan dan dorongan hidup manusia berakar pada upaya manusia untuk
mengisi lubang yang ada di dalam jiwanya. Saya menyebutnya sebagai
“rumah hasrat”. Menarik bukan?
Saya pernah jomblo (ga punya pacar) cukup lama. Rasanya hampa. Hati
kosong. Malem Minggu sepi. Mau curhat (curahan hati), tapi ga ada yang
bisa diajak curhat. Akhirnya, di dalam hati muncul keinginan (hasrat)
untuk mencari pacar lagi. Mirip seperti lagunya ST12 yang sempat
terkenal, “cari pacar lagi…”
Setelah bergaul dan membuka lingkungan pergaulan baru (anak gaul nih
ceritanya), saya pun mendapatkan pacar baru. Hati senang. Namun, itu tak
lama. Si lubang (rumah hasrat) dalam diri kembali berteriak-teriak.
Saya ingin pacar saya seperti ini, seperti itu. Tidak cocok. Putus lagi.
Hampa lagi. Sedih lagi… hiks…
Dugaan saya, anda pun pernah mengalami seperti itu. Ga pacaran
kesepian, tapi pacaran justru pusing dan repot. Manusia memang tak
pernah puas, karena ia punya lubang hasrat di dalam dirinya yang
menuntut untuk terus diisi, tanpa pernah sungguh penuh terisi. Artinya,
kita seumur hidup selalu dibayangi oleh kecemasan untuk memenuhi hasrat
kita. Tul ga?
Kata ajaran Buddha, lubang ini bisa dilenyapkan, dan manusia lalu
bisa sampai pada kedamaian sempurna. Ajarannya kelihatan baik. Namun,
menurut saya, justru hasrat ini yang membuat kita ini manusia, yang
membuat kita ini hidup. Kalau dihilangkan, lalu kita ini apa namanya?
Tidak tahu. Yang pasti bukan manusia. Robot? Mayat hidup? Hiii… Tidak
bermaksud menghina ya. Bagaimana pendapat teman-teman yang mendalami
ajaran Buddha?
Oke.. oke.. kembali ke tema utama. Jadi pada hemat saya, salah satu
komponen utama cinta adalah hasrat, dan hasrat itu sudah selalu ada
dalam diri manusia, apapun agama, ras, ataupun etnisnya. Hasrat yang
mendorong kita untuk mencintai, pacaran, menikah, punya anak, dan
sebagainya. Hasrat yang mendorong kita untuk hidup. Tanpa hasrat, kita
bagaikan mayat hidup berjalan. Udah ah.. jangan ngomong mayat-mayat
lagi.. serem…
Kehadiran
Komponen kedua, menurut saya, adalah kehadiran. Cinta itu butuh
kehadiran, baik kehadiran fisik, maupun kehadiran hati. Orang yang
mencintai harus “hadir” dengan seluruh dirinya untuk yang dicintai,
untuk menemani, membantu, dan berjalan bersama dengan orang yang
dicintainya. Kalo tidak hadir, maka apa gunanya pacaran, apa gunanya
mencintai? Itu sama saja dengan “tidak mencintai” atuh. Ya kan?
Makanya, saya selalu kagum dengan orang-orang yang bisa pacaran jarak
jauh, apalagi suami istri yang berhubungan jarak jauh. Kehadiran fisik
hanya mungkin pada saat-saat tertentu saja, seperti pada saat liburan
atau cuti. Yang mengikat mereka adalah kehadiran hati. Artinya, tubuhku
jauh, tapi hati dan pikiranku bersamamu. Romantis ya? Cihuy…
Saya sering melihat, ada orang pacaran, tapi yang satu sibuk main
Blackberry, yang satu sibuk main notebook. Mereka tidak bicara. Mereka
tidak saling menatap. Lah, apa gunanya ketemu? Mereka pacaran, tetapi
mereka tidak hadir untuk satu sama lain. Apa itu namanya? Temannya juga
bukan pasti. Apakah anda seperti itu juga?
Saya juga sering marah, kalau berjumpa dengan teman, tetapi ia sibuk
main Blackberry. Fisiknya ada di depan saya, tetapi perhatiannya entah
kemana. Saya merasa diabaikan, ga dianggap manusia, tetapi cuma dianggap
benda saja. Siapa yang tidak marah, kalau diperlakukan seperti itu?
Melihat itu semua, saya janji pada diri saya sendiri, bahwa saya akan
memberikan perhatian penuh pada orang lain, jika mereka berbicara
kepada saya. Saya tidak sibuk main BB, main notebook, atau main apapun.
Saya akan mendengar, dan menanggapi, kalau diminta. Semoga janji saya
ini juga bisa menginspirasikan anda untuk membuat janji yang sama kepada
diri anda sendiri. Semoga….
Jadi intinya, orang pacaran itu harus punya cinta, dan cinta itu
tandanya adalah kehadiran, baik kehadiran badan, hati, maupun pikiran.
Tanpa kehadiran, pacaran itu cuma basa-basi, formalitas, atau sekedar
menaikan status sosial. Kalau itu yang terjadi, semuanya jadi sia-sia.
Kita jadi orang dangkal yang tak punya idealisme. Jangan jadi seperti
itu ya… plis..
Komitmen
Komponen ketiga dari cinta, menurut saya, adalah komitmen. Komitmen
adalah kesetiaan pada janji. Bukan hanya setia, tetapi janji itu
dijalankan, ditepati, sampai sedetil-detilnya, dan jangan ditawar-tawar,
kalau sudah disepakati. Ya ga?
Kok otoriter banget? Ga juga. Diskusi dan debat itu boleh dilakukan,
sebelum janji dibuat. Tetapi ketika janji sudah disepakati, yah jangan
ditawar lagi untuk membenarkan pelanggaran. Itu ndablek namanya. Hehehe…
Suatu saat, janji bisa berubah. Namun, sebelum janji berubah, harus
ada pembicaraan dulu yang intensif, yang sering. Jangan tiba-tiba, salah
satu pasangan ingin mengubah perjanjian, lalu semua berubah seenaknya.
Yang penting, ketidaksepakatan itu dibicarakan. Bicara donk… jangan diam
saja…
Saya sendiri juga bukan orang yang selalu tetap janji. Saya pernah
melanggar janji. Tapi, saya sadar, dan kemudian berubah. Niat berubah
pun belum tentu mengubah tindakan. Butuh waktu lama, sebelum niat
sungguh menjadi kenyataan. Beberapa kali, saya dimarahi atau ditegur
oleh pacar saya, karena tidak tepat janji. Maklum, namanya juga manusia.
Yang penting kan ga diulangi lagi… hehehe..
Saya juga pernah punya pacar yang janjinya banyak, tetapi sering
banget dilanggar. Akhirnya, kita berantem terus. Hubungan bukan lagi
menjadi hiburan dan penguat, tetapi justru menjadi beban yang
memberatkan. Susah kalo kita punya hubungan seperti ini. Bagaimana
dengan kisah anda?
Pokoknya, cinta itu harus diikat dengan komitmen, baru sungguh
menjadi cinta sejati yang menjadi penguat kehidupan, dan sumber
kebahagiaan. Cinta tanpa komitmen itu seperti sambal tanpa cabe, artinya
yah bukan sambal sama sekali. Ga ada gunanya. Masing-masing cuma menipu
diri. Kita tidak hanya menipu orang lain, dengan mengaku mencintai dia,
tetapi juga menipu diri sendiri. Kasiaaan banget….
Akal Budi
Cinta juga harus pake akal. Jangan mencintai secara gila-gilaan,
sehingga ditipu pun tidak sadar. Orang yang mencintai juga harus tahu
batas, kapan dia bisa memanjakan kekasihnya, memarahinya, atau
meninggalkannya. Cinta tidak boleh buta. Duh.. hari gini, tetap saja
masih ada orang yang mencintai secara buta, sehingga semuanya
dikorbankan, termasuk uang, keluarga, dan sebagainya. Jangan jadi
seperti itu ya…
Saya pernah punya teman perempuan. Ia amat mencintai suaminya. Apapun
keinginan suaminya pasti dituruti. Gaya hidup mereka mewah, sementara
pendapatan tak seberapa. Ketika situasi keuangan menurun, hubungan
mereka krisis, dan pecah. Teman saya amat sedih dan patah hati.
Ternyata, suaminya hanya mau dimanja, tetapi tidak mau hidup sulit
bersamanya. Duh.. anda jangan sampai seperti itu ya…
Beberapa orang bilang, bahwa saya orang yang kejam. Di mata mereka,
saya tuh pelit kalau pacaran. Kalau bikin perjanjian tuh tepat banget,
sampe keliatan ga manusiawi. Pembelaan saya cuma satu, saya cuma ga mau
memanjakan pasangan saya. Saya ingin mereka mandiri, dan tak tergantung
secara emosional pada saya. Jahat ga sih begitu?
Saya juga dibilang sok-sok rasional. Itu sih tidak masalah, karena
memang prinsip saya tetap sama, yakni pacaran dan cinta pun harus
menggunakan akal. Jangan sampai kita diperas, karena cinta. Jangan
sampai kita ditipu, karena cinta. Cinta tidak boleh membuat mata kita
gelap dari kenyataan. Setuju ga? Hidup cinta.. hidup akal! Hush..
lebai..
Berkembang
Cinta sejati itu mengembangkan. Saya setuju dengan prinsip ini. Orang
yang saling mencintai ingin pasangannya lebih baik, lebih pintar, lebih
bijak. Hubungan mereka menjadi dasar untuk mengembangkan diri
seutuhnya. Setuju?
Namun, ada kalanya upaya mengembangkan diri itu mengancam hubungan.
Misalnya, istri dapat promosi di luar kota, dan harus meninggalkan
keluarganya. Sementara, si suami merasa, bahwa urusan di rumah terlalu
banyak untuk diurusnya sendiri, maka ia tidak setuju dengan rencana itu.
Lalu bagaimana?
Saya rasa, tidak ada rumus universal untuk masalah itu. Yang perlu
diperhatikan adalah prinsip berikut, semua keputusan yang dibuat harus
didasarkan pada pembicaraan yang matang, egaliter, dan bebas dominasi
antara semua pihak, yang nantinya terkena dampak dari keputusan itu.
Proses ini menjamin, bahwa keputusan yang dibuat itu adil untuk semua
pihak. Setujukah anda?
Berkembang juga harus tahu batas. Jangan sampai perkembangan diri
justru malah menghancurkan hubungan. Percayalah, kesuksesan tidak ada
artinya, kalau anda tidak punya orang yang bisa diajak untuk berbagi
kesuksesan itu. Kebahagiaan itu bersifat sosial, dan tidak pernah
bersifat semata individual. Orang yang paling berbahagia di dunia ini
adalah orang yang paling banyak berbagi. Percaya tidak?
Saya punya seorang teman. Dia amat sabar, dan baik. Istrinya amat
ambisius, dan sukses dalam karirnya. Pendapatan istrinya jauh lebih
tinggi dari pada dia. Mereka hidup bahagia. Anaknya dua. Teman saya amat
mendukung karir istrinya. Sementara, istrinya juga tahu batas, dan tak
pernah mengorbankan keluarga. Saya tidak bilang, bahwa mereka keluarga
sempurna. Namun, saya yakin, keluarga itu bisa menanggapi semua masalah
kehidupan dengan baik, sebesar apapun masalah itu. Bagaimana pengalaman
anda?
Paradoks
Esensi terdalam cinta, menurut saya, adalah paradoks. Paradoks itu
artinya dua hal yang bertentangan, namun bisa menyatu, dan menciptakan
sesuatu. Misalnya, anak itu sekaligus benci dan cinta pada ayahnya, atau
orang itu sekaligus lembut dan keras pada saat bersamaan. Intinya, dua
hal yang bertentangan justru bisa menyatu secara harmonis. Semoga anda
tidak bingung ya..
Cinta pun juga paradoks. Di dalamnya, orang bisa merasakan benci dan
sayang pada waktu yang sama. Cinta juga bisa bertahan, jika orang tidak
terlalu mengikat pasangannya. Justru dengan melepas orang yang
disayangi, maka cinta akan bertumbuh. Sebaliknya, dengan diikat, orang
yang dicintai justru akan pergi. Apakah anda punya pengalaman seperti
itu?
Kalau kata orang dulu, mencintai itu seperti menggengam pasir.
Semakin kita kuat menggengam, semakin cinta itu jatuh. Sebaliknya, jika
kita menggenggam dengan santai, maka pasir/cinta itu akan tetap di
tangan kita. Jadi, cinta itu memang mirip pasir. Pasir adalah bahan
dasar bangunan material, sementara cinta adalah bahan dasar bangunan
spiritual. Romantis ya?
Di dalam cinta, semakin kita memberi, semakin kita akan mendapatkan.
Semakin banyak kita berkorban, semakin kita akan memiliki banyak.
Semakin kita mencintai, semakin kita akan dicintai. Namun, seperti
prinsip di atas, prinsip akal budi tetap harus dipakai. Yang
pantas-pantas saja dilakukan sebagai manusialah. Kalau kata anak remaja
jaman sekarang, jangan lebay ya….
Saya punya pengalaman sewaktu masih kuliah dulu. Ketika pacaran, saya
hitung-hitungan dengan pacar saya. Bukan hanya uang, tetapi waktu dan
tenaga. Saya malas pergi keluar rumah. Saya malas mengunjungi
tempat-tempat yang menarik. Bahkan, saya malas pergi ke kondangan. Siapa
yang mau punya pacar seperti itu?
Alasan saya waktu itu hanya satu, yakni hemat, termasuk hemat uang,
hemat tenaga, hemat bensin, dan sebagainya. Namun, proses pacaran kami
jadi penuh tekanan. Pacaran jadi tidak enjoy, dan hanya menjadi beban.
Semuanya dihitung, dan akhirnya saya pusing sendiri. Di akhir-akhir
hubungan, saya mulai berubah mulai mengikuti keinginan pacar saya,
walaupun itu melelahkan, dan buang-buang uang. Mukjizat terjadi?
Hehehe..
Ternyata, hasilnya tidak jelek. Saya lebih enjoy, dapat banyak
pengalaman dan pengetahuan baru, serta kenal dengan orang-orang baru.
Wawasan saya diperluas. Bahkan, pacar saya bersedia patungan beli
bensin, dan traktir makan. Sayangnya, hubungan kami tidak bertahan. Kami
putus, karena alasan lain. Yang pasti bukan karena saya pelit… heheheh…
Kembali ke tema, intinya, pacaran itu harus punya cinta. Dan, cinta
itu harus dihidupi dengan enam komponen, yakni komponen hasrat (1),
kehadiran (2), kemampuan memberi ruang untuk berkembang (3), komitmen
(4), harus pakai akal budi (5), dan dijalankan dengan penuh kesadaran
akan paradoks hidup (6). Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, kita pacaran! Yuk,
belajar mencintai!
Laman
Showing posts with label Filsafat. Show all posts
Showing posts with label Filsafat. Show all posts
Tuesday, 14 January 2014
Filsafat sebagai Revolusi: Pendahuluan Buku Filsafat Terbaru
Oleh Reza A.A Wattimena
Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, Sedang di München, Jerman
Buku ini adalah buku filsafat yang lahir dari kegelisahan. Saya
memberinya judul “Filsafat sebagai Revolusi Hidup.” Judul ini langsung
menyentuh pemikiran saya yang tertuang di dalam buku ini. Dengan judul ini, saya juga berusaha
menafsir ulang, apa arti filsafat sesungguhnya, dan apa perannya dalam
hidup kita.
Di dalam buku ini, saya melihat filsafat sebagai suatu cara hidup yang revolusioner. Pemahaman ini lahir dari pergulatan pribadi saya dengan pelbagai makna filsafat yang tersebar di dalam sejarah peradaban manusia, mulai dari pencinta kebijaksanaan, sampai dengan pemahaman tentang segala sesuatu. Filsafat mengajak orang untuk berpikir sistematis, masuk akal dan mendasar tentang hidupnya, dan hidup orang-orang di sekitarnya. Dari tiga hal itu, filsafat lalu menjadi revolusi; cara hidup revolusioner.
Apa makna revolusi? Revolusi adalah perubahan yang cepat, mendasar dan menyeluruh. Ia bisa terjadi di level sosial dan politik, tetapi juga bisa terjadi di level pribadi. Kita bisa menderet berbagai contoh revolusi sosial politik di dalam sejarah manusia, mulai dari revolusi Prancis di abad 18 sampai dengan revolusi kemerdekaan Indonesia di awal sampai dengan pertengahan abad 20.
Berbagai bentuk revolusi tersebut selalu memiliki tujuan yang sama, yakni menciptakan tata dunia atau tata masyarakat yang baru, yang dianggap lebih baik dari sebelumnya. Yang patut disayangkan, setiap proses revolusi politik selalu memakan korban jiwa manusia dalam jumlah besar. Namun, itu tidak merupakan keniscayaan, karena selalu ada kemungkinan lain, yakni revolusi hidup pribadi, yang nantinya akan mendorong revolusi politik yang damai. Bisa juga dirumuskan, filsafat mendorong revolusi pribadi, dan keduanya lalu menjadi bahan bakar untuk mendorong revolusi sosial politik yang damai.
Maka, di dalam buku ini, saya mengajukan tesis sederhana, bahwa filsafat pada hakekatnya adalah suatu bentuk revolusi. Ia mempertanyakan. Ia berusaha mengajukan pemikiran sebagai jawaban. Namun, jawaban itu tidaklah mutlak, namun dipertanyakan ulang, lalu dirumuskan kembali sebagai jawaban yang baru, yang dianggap lebih pas dari jawaban yang sebelumnya. Filsafat adalah revolusi tanpa henti.
Revolusi di tingkat pertama adalah revolusi cara berpikir. Artinya, orang bertanya kepada dirinya sendiri, apakah cara dia memandang kenyataan dunia sekitarnya sudah bisa dipertanggungjawabkan, atau belum. Ia menguji sendiri metode berpikirnya, lalu sampai pada keputusan, apakah ia harus mengembangkannya, atau justru menghancurkannya sama sekali. Ini pola dan inti dari revolusi cara berpikir di dalam filsafat yang saya bahas dengan beragam contoh di dalam buku ini.
Revolusi di tingkat kedua adalah cara berbahasa. Cara kita membahasakan sesuatu menentukan sikap kita pada sesuatu itu. Misalnya, anda menanggap orang lain sebagai pemalas. Maka, sikap anda pun akan cenderung negatif pada orang itu. Sebaliknya, jika anda tidak mencap dia sebagai pemalas, tetapi sebagai orang yang sedang sakit, maka anda tentu akan bersikap berbeda terhadapnya.
Di dalam berbagai diskusi, saya memperhatikan, bagaimana bahasa yang kita gunakan untuk menggambarkan orang lain amat mempengaruhi sikap kita terhadapnya. Contohnya adalah kata “negara dunia ketiga”. Kata ini penuh dengan penghinaan, mulai dari keterbelakangan, kemiskinan, kebodohan, sampai perlu untuk dijajah. Cara kita berbahasa tentu harus dipikirkan ulang, supaya lebih adil terhadap kenyataan yang ada.
Maka, cara kita berbahasa pun harus mengalami revolusi. Kita tidak bisa berbahasa, seolah bahasa itu netral, dan pasti mencerminkan kenyataan yang ada. Ini adalah anggapan naif yang harus ditinggalkan jauh-jauh. Revolusi cara berbahasa adalah bagian dari revolusi pribadi, dan filsafat memainkan peran penting di dalamnya.
Setelah menjalani revolusi cara berpikir dan cara berbahasa, orang lalu naik ke tahap berikutnya, yakni revolusi cara bertindak. Banyak masalah di dunia ini terjadi dan terus berkembang, bukan karena kurangnya informasi dan kurangnya kesadaran, tetapi kurangnya tindakan nyata. Kesadaran yang ada belum cukup kuat untuk mendorong perubahan tindakan. Pola ini bisa dilihat mulai dari masalah kemiskinan yang tak kunjung selesai di berbagai belahan dunia, sampai dengan masalah perubahan iklim. Cara kita bertindak pun harus mengalami revolusi dengan berpijak pada data dan kesadaran yang ada. Filsafat jelas berperan besar untuk mendorong revolusi cara bertindak.
Namun, revolusi cara bertindak tidaklah cukup, karena tindakan hanya terjadi di waktu-waktu tertentu, dan bukan di setiap waktu. Revolusi di tahap berikutnya adalah revolusi cara hidup. Jelas, cara kita hidup sekarang, dengan berbagai fasilitas teknologi yang ada, banyak memakan energi, dan perlu untuk mengalami revolusi. Revolusi politik yang tidak dibarengi dengan revolusi cara hidup hanya akan melahirkan penguasa baru, namun dengan cara berpikir yang lama. Ini tidak ada gunanya.
Ketika revolusi sudah menyentuh cara hidup, maka ia akan menyebar ke berbagai segi kehidupan bersama. Pola pendidikan akan berubah. Pola politik akan berubah. Pola ekonomi akan berubah. Pola hidup kita akan berubah, dan terus berubah, karena terus dipertanyakan dan dikaji ulang. Inilah inti kebijaksanaan filosofis, yakni hidup dalam tegangan, dan tak pernah berhenti pada satu bentuk pemikiran yang sifatnya dogmatik. Buku ini ingin menerapkan pola berpikir revolusioner tersebut ke dalam pelbagai bidang kehidupan.
Pada hemat saya, buku Filsafat Sebagai Revolusi Hidup ini dapat ditempatkan sebagai lanjutan dari buku tulisan Franz Magnis-Suseno lebih terbitan Kanisius pada 1991 lalu yang berjudul Filsafat sebagai Ilmu Kritis. Puncak dari sikap kritis, menurut saya, adalah revolusi. Revolusi mempertanyakan, menggugat, lalu mengubah keadaan. Namun, keadaan itu pun tidak mutlak, karena revolusi akan terus berlanjut.
Ini adalah buku pertama dalam bahasa Indonesia yang tidak hanya
menegaskan, bahwa filsafat pada hakekatnya adalah sebuah revolusi,
tetapi juga mencoba menerapkannya ke berbagai bidang kehidupan yang ada.
Ini merupakan nilai tambah yang amat penting bagi buku ini, dan juga
bagi pembacanya di Indonesia. Filsafat tidak lagi dilihat sebagai hamba
agama dan teologi, tetapi justru pengubah agama dan teologi, maupun
bidang-bidang lainnya, supaya selalu bisa memberi kebaikan bagi hidup
manusia. Filsafat mencapai puncaknya, ketika ia mendorong revolusi.
Buku ini lahir dari kegelisahan saya melihat bagaimana filsafat dipahami, baik di Jerman maupun di Indonesia. Filsafat seolah berubah menjadi pemikiran abstrak, yang nyaris tidak ada kaitannya dengan perjuangan manusia sehari-hari. Buku ini lahir untuk menanggapi kecenderungan semacam itu, yang seringkali merupakan tanda pelarian manusia dari kenyataan yang tak kuat lagi dihadapinya. Buku ini juga lahir dari percikan refleksi filosofis yang saya buat selama tahun 2013, ketika saya sedang belajar di Jerman. Beberapa diantaranya telah diterbitkan oleh harian Kompas di Jakarta, Majalah Basis di Yogyakarta, dan koran Jubileum di Surabaya.
Seperti sudah sedikit saya singgung sebelumnya, buku ini mengajukan satu pendapat sederhana, bahwa filsafat, pada hakekatnya, adalah revolusi. Lebih dari itu, puncak tertinggi dari filsafat adalah revolusi. Revolusi tidak hanya dalam arti revolusi sosial politik, tetapi lebih pada revolusi cara berpikir, sampai dengan revolusi cara hidup. Dengan berfilsafat, kita pada akhirnya juga melakukan revolusi tanpa henti.
Di dalam buku ini, saya lebih memilih menggunakan kata revolusi,
karena kata ini memiliki nuansa lebih kuat untuk mengajak berpikir,
sekaligus untuk menggerakkan. Kata “mengubah” sering terdengar terlalu
lemah, dan, dengan demikian, tidak memberikan inspirasi pada orang untuk
sungguh berubah. Ada beberapa tulisan yang memiliki judul sama, namun
isinya berbicara soal hal yang berbeda dengan gaya analisis yang berbeda
pula. Semuanya diikat dengan satu tema, yakni revolusi cara hidup.
Buku ini saya tujukan bukan hanya pada para peminat filsafat, tetapi juga pada semua orang yang merasa, bahwa Indonesia, dan juga dunia ini, butuh perubahan yang cepat dan mendasar; revolusi. Saya berharap buku ini tidak hanya menjadi bahan diskusi di kelas atau acuan dalam menulis karya ilmiah, tetapi juga menjadi renungan pribadi yang sungguh bisa mendorong terciptanya revolusi diri. Saya tidak bermaksud memicu revolusi sosial politik di Indonesia, karena itu seringkali hanya akan memakan banyak korban jiwa, namun dengan hasil yang minimal. Dengan buku ini, saya berharap, revolusi sosial politik terjadi secara damai sebagai dampak dari revolusi cara hidup yang mendasar dan menyeluruh dari warga negara Indonesia.
Sebagai bagian dari percakapan manusia, buku ini tentu memiliki kelemahan. Saya tidak secara sistematis menjabarkan kaitan erat antara filsafat dan revolusi. Namun, itu juga dilakukan, supaya buku ini tidak menjadi buku akademik semata yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang saja. Ada kesan, buku ini terlalu optimis dan memiliki cita-cita yang terlalu tinggi. Saya hanya berharap, sebagian dari isi buku ini bisa mengubah cara hidup pembacanya. Semoga ini bukan merupakan tujuan yang terlalu tinggi.
Labels:
Filsafat
Filsafat dan Revolusi yang Tak Berhenti
Cuplikan dari Buku Filsafat sebagai Revolusi Hidup
Oleh Reza A.A Wattimena
Dosen Filsafat Politik Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman
Saya beruntung, karena mendapat kesempatan
mendengar kuliah yang amat bagus dari Hendra Sutedja tentang Filsafat
Timur. Saya ingat, ia mengajukan pendapat, bahwa inti dari seluruh
Filsafat Cina adalah perubahan. Orang-orang Cina melihat perubahan
iklim, perubahan cuaca, dan perubahan di dalam segalanya. Alam adalah
perubahan itu sendiri, dan perubahan adalah inti dari revolusi, yakni
perubahan yang cepat dan mendasar.
Pendapat yang sama dapat ditemukan di dalam pemikiran
Herakleitos, filsuf Yunani Kuno. Ia berpendapat, bahwa inti terdasar
dari seluruh kenyataan yang ada adalah perubahan. Ia kemudian merumuskan
argumen: pantha rei, yang berarti mengalir. Seluruh alam, termasuk manusia, itu terus mengalir dan berubah, tanpa henti.
Revolusi adalah sebentuk perubahan. Bedanya, revolusi adalah perubahan yang disadari, terjadi secara cepat dan mendasar. Reformasi, seperti yang dilakukan di Indonesia sejak 1998, adalah perubahan di permukaan, bagaikan menambal kain yang rusak. Ini jelas bukanlah revolusi. Revolusi bagaikan membakar kain yang lama, lalu berusaha menjahit baju yang baru dari kain yang baru dengan teknik yang lebih baik.
Juga seperti dijelaskan oleh Herakleitos dan mayoritas
aliran berpikir di dalam filsafat Cina, perubahan itu tak pernah
berhenti. Revolusi, juga, tak pernah berhenti. Ia bagaikan air yang
menghempas, menantang orang untuk mengubah cara hidupnya. Ia adalah
perubahan dengan rencana, walaupun kita tahu pasti, tidak ada rencana
yang 100 persen bisa terjadi di kenyataan.
Ketika revolusi sudah dianggap selesai, maka keadaan akan berubah menjadi dogmatis. Artinya, orang tak lagi berpikir dengan cara-cara baru, melainkan menerima begitu saja, bahwa keadaan tidak lagi bisa diubah. Inilah sikap dogmatis yang menjadi akar dari fanatisme dan fundamentalisme yang bisa menindas segala bentuk perbedaan maupun ide-ide baru yang muncul. Saya sudah membahas soal ini lebih dalam di salah satu tulisan di dalam buku ini tentang konservatisme.
Sayangnya, inilah yang kerap kali terjadi. Revolusi
dihentikan atas nama kestabilan. Stabilitas memang amat diperlukan dalam
hidup. Namun, stabilitas tidak pernah boleh menjadi situasi aman nyaman
yang membunuh kreativitas dan kebaruan. Sebaliknya, stabilitas justru
harus memungkinkan lahirnya ide-ide baru yang lebih baik. Ia tidak boleh
menyembunyikan ketakutan atas kebaruan di baliknya.
Di dalam filsafat Jerman, Hegel berbicara soal gerak roh.
Gerak tersebut terjadi di dalam sejarah manusia, dan tak akan pernah
berhenti, sampai roh menjadi absolut. Ini adalah argumen filosofis
tentang revolusi yang berjalan terus sepanjang sejarah manusia, dan juga
sepanjang hidup setiap orang. Ia terjadi secara niscaya, entah manusia
menginginkannya, atau tidak.
Hegel juga berbicara soal dialektika. Ide ini sendiri sebenarnya punya akar panjang di dalam sejarah filsafat, sampai ke Plato di masa Yunani Kuno. Gerak kenyataan terjadi melalui tiga tahap, yakni tesis, yang kemudian menemukan perlawanan dalam anti tesis, lalu keduanya meningkat menjadi sintesis, yang secara kualitatif lebih baik dari tesis maupun antitesis. Gerakan ini, menurut saya, adalah bentuk revolusi ide. Hegel menyebutnya sebagai proses Aufheben.
Di dalam bukunya yang berjudul The Sublime Object of Ideology, Slavoj Zizek, filsuf asal Slovenia, merumuskan konsep yang nyata (the real). Ia mengembangkan konsep ini dari pemikiran Jacques Lacan, psikoanalis asal Prancis. Yang nyata adalah saat-saat tak terduga dalam hidup manusia, yang tak direncanakan, tetapi tetap terjadi, dan mengubah hidupnya. Dampaknya bisa kecil, namun juga bisa besar. Revolusi, menurut saya, adalah bentuk dari yang nyata ini, yang terus terjadi dalam hidup manusia, dan memaksanya untuk terus memikirkan ulang hidupnya kembali.
Jelas, revolusi membuat hidup tak nyaman. Ia menggoyang
stabilitas, dan memaksa orang untuk berpikir ulang tentang hampir
segalanya. Hal yang sama juga terjadi di level politik. Revolusi
mengganggu stabilitas politik, namun kerap kali menjadi awal untuk
keadaan yang lebih baik di masa datang. Orang tak boleh membunuh
kebaruan atas nama kenyamanan, itulah yang kiranya diajarkan oleh para
pemikir besar sepanjang sejarah manusia.
Kenyamanan dan ketenangan hati memang menjadi keinginan hampir setiap orang. Namun, dua keadaan ini juga bisa membahayakan, karena membuat orang terlena, sehingga ia tidak lagi berpikir tentang hidupnya, dan tentang orang lain. Ketenangan hati itu membunuh revolusi. Orang yang hidupnya tenang dan nyaman biasanya sudah mati, walaupun jantungnya masih berdetak, dan ia masih bisa bernafas.
Kenyamanan dan ketenangan hati juga merupakan tanda, bahwa
orang hidup dalam dogma. Itu juga berarti, orang sudah nyaman dengan
keadaan, yang seringkali menutupi penindasan atas kelompok tertentu.
Menjadi tenang dan nyaman berarti juga ikut secara tidak langsung
membenarkan keadaan yang menindas. Itulah kiranya yang terjadi di dalam
diri banyak orang Jerman, sewaktu Hitler menguasai Jerman pada era
perang dunia kedua, dan mendirikan berbagai kamp konsentrasi untuk
membasmi orang-orang Yahudi dan musuh-musuh politiknya di Jerman dan
negara-negara sekitarnya.
Kata orang, ignorance is bliss, ketidaktahuan itu membahagiakan. Saya sepakat dengan pendapat ini. Orang yang tidak tahu biasanya tenang-tenang saja melihat keadaan. Ia merasa, semua baik-baik saja. Ia hidup dalam kepalsuan dan tetap bahagia, walaupun dunia sekitarnya hancur di depan matanya. Pada akhirnya, ia juga akan menjadi korban dari kehancuran dunia sekitarnya.
Musuh utama revolusi bukan hanya sikap hidup konservatif,
tetapi juga ketenangan hati yang berakar pada kemalasan berpikir.
Revolusi menuntut dua hal, yakni perubahan yang cepat dan mendasar,
serta inklusi, atau penyertaan semua orang di dalam keadaan yang baru.
Filsafat sebagai revolusi mendorong masyarakat untuk menciptakan
masyarakat yang terbuka, yang menciptakan keadilan dan kemakmuran bagi
setiap orang, tanpa kecuali.
Saya sadar, ini memang amat sulit. Namun, ini adalah tujuan yang amat penting untuk dicapai, walaupun tak pernah sungguh 100 persen bisa dicapai. Dunia yang layak hidup untuk semua, tidak hanya untuk generasi yang sekarang hidup, tetapi juga generasi mendatang. Inilah inti dari semua teori politik ekonomi di awal abad 21, terutama yang dirumuskan oleh Franz Josef Radermacher dengan konsepnya Ökosoziale Marktwirtschaft.
Peran media juga sangat besar dalam melakukan revolusi. Media tidak hanya menjadi tempat berita-berita sensasional, tetapi juga sebagai sumber inspirasi untuk mendorong revolusi pribadi, maupun revolusi politik. Ia tidak hanya menjalankan peran sebagai penghibur bagi publik, tetapi juga meningkatkan kesadaran akan pentingnya revolusi pribadi di dalam diri. Ini juga berlaku bagi jaringan media sosial yang sekarang ini merupakan bagian penting dari hidup banyak orang.
Revolusi, degan demikian, bukan hanya suatu keadaan sesaat, tetapi suatu cara hidup. Filsafat sendiri adalah suatu bentuk revolusi tanpa henti. Ia menggugat, mempertanyakan dan memperbarui. Kata kunci yang juga penting adalah kesadaran untuk berubah dengan berpijak pada visi dan rencana yang sudah dibuat sebelumnya. Jadi, bukan revolusi asal, yang juga berarti bukan revolusi sama sekali.
Orang tak perlu takut dengan revolusi, sama seperti orang tak perlu takut dengan filsafat. Ia adalah awal dari kemungkinan baru yang lebih baik, jika dikawal dengan akal budi dan hati nurani. Dua kata kunci itu amat sangat penting, guna menjalankan revolusi, yakni akal budi dan hati nurani. Dua hal ini jugalah yang memastikan, bahwa revolusi pribadi maupun politik akan berjalan terus.
Begitu banyak contoh revolusi sosial yang terjadi di Indonesia. Joko Widodo dan Ahok (Basuki Tjahjaja Purnama) melakukan revolusi besar di Jakarta, guna menciptakan keadaan yang lebih baik untuk semua, tidak hanya untuk orang-orang kaya saja. Tri Rismaharini melakukan revolusi di Surabaya, guna menjadikannya kota yang indah dan bersih untuk semua, tanpa kecuali. Paus Fransiskus, Paus Gereja Katolik Roma, melakukan revolusi di Vatikan, guna membersihkannya dari korupsi dan pelbagai krisis moral lainnya. Pertanyaan saya, kapan revolusimu?
Labels:
Filsafat
Subscribe to:
Posts (Atom)